Monday, 26 October 2015

Habib Garis Tempur! Cucu Rasulullah "berjihad" di perang Suriah

Dikisahkan oleh akhi Fathi Attamimi

Tahukah anda siapa kuli panggul depan truk besar pada foto ini? Jangan dulu meledek apalagi menghina, sebab beliau insyaAllah salah satu manusia paling mulia yang pernah saya temui!

Nama beliau habib Said Anshar Jamalul Lail. Seorang habib merangkap pengusaha komputer besar asal Meulaboh Aceh yang seringkali bikin saya malu karena semangat dan kerendahan hatinya.

Postur beliau kecil saja, agak gemuk dan periang. Setiap yang memandang pasti jatuh hati. Saya sendiri sempat mikir kalau beliau perempuan, mungkin sudah saya lamar, tapi berhubung beliau berjenggot, ya tidak jadi. Maklum, saya juga jenggotan
Hehehe...

Melihat sekilas lalu tak akan ada yang mengira kalau beliau luar biasa tangguh di medan tempur. Pemberani, pantang menyerah dan pantang mundur. Bahkan saking beraninya, kalau tidak saya tahan-tahan mungkin beliau akan terus maju sampai beradu hidung dengan Nushairiyah!

2 kali beliau ke Suriah. Pertama kali sekira 2 tahun lalu dan menetap 1 bulan, kemudian kedua kalinya sekarang ini, bertugas lebih dari 3 bulan. Keberangkatan beliau pertama kali tidak bareng bersama saya, tapi yang sekarang ini Alhamdulillah di lapangan kami selalu bersama. Keberangkatannya yang pertama menyisakan kenangan manisnya akan dunia lain bernama Suriah. Maka sejak itu mimpi-mimpi sang habib adalah tentang Suriah. Tentang penduduknya, tentang mesiu yang amis darah, tentang alarm bersuara seperti bom. Tentang separuh hatinya yang telah tertinggal di Suriah!

Jadi sebelum Ramadhan kemarin beliau curhat

"Saya pingin ke Suriah lagi Mir (Fathi),
Rindu ini udah terlalu menggebu"

Gayung bersambut. Kebetulan juga saya ingin ke Suriah demi sedikit membakar semangat orang-orang yang belakangan ini redup. Melukis kembali kata Suriah pada Facebok dan internet. Mengingatkan kita semua bahwa ada saudara nun jauh di negeri api, yang tanahnya dari api, bahkan udaranya pun dari api. Terbakar atau membakar segala.

Saya cuma bilang singkat sama beliau: "Siap-siap aja pak, keberangkatan kita insyaAllah ga bisa ditentukan. Bisa besok, bisa taun depan. Tergantung uang di kantong saya"

Lalu tak lama alhamdulIllah kami cukup rejeki. Pergi membawa diri dan sebuah misi : Mengingatkan antum semua akan Suriah

Perjalanan pergi bukan mudah. Turki sekarang bukan Turki yang dulu. Perbatasan relatif mustahil dilalui, Baik legal, Apalagi illegal. Segala tekanan luar dalam yang menghimpit Turki membuat kebijakan perbatasan kini tak ramah lagi. Tentara bersikap keras, Dan peluru tak segan ditembakkan pada setiap pelintas batas. Maka masuk ke Suriah kali ini macam bertaruh nyawa di meja judi : Sukses atau mati !

Tapi
Alhamdulillah kami sukses melintasinya. Dan itu pertama kalinya habib Said, saya dan dr. Sarju hampir mati, dari rangkaian "hampir mati" lainnya yang berkali-kali menyapa sepanjang 3 bulan lebih ini.

Sesampai di dalam kami bagi tugas: dr. Sarju di pos medis. Saya di pos jurnalis. Dan habib Said di pos pengungsian. Tapi rencana tinggal rencana. Pos pengungsian yang kering dan hampa dari aura jihad, membuat habib kita terus nekat naik ke pos jurnalis. Menyapa bom dan peluru dengan riang gembira

Ya. Riang gembira! Tiap ada ledakan bom yang meleset, beliau langsung lebar tertawa! Bom-bom sialan itu bagi habib kita rupanya macam petasan rawit belaka!

Sepanjang penugasan saya kewalahan mengarahkan beliau tetap pada posnya. Tiap 10 menit beliau kirim WA mengeluh "Mir, Gimana kondisi di medan perang? Jemput ana dong... Pengen juga nih ditembakin"

Lah? Baru sekarang saya nemu orang yang pengennya malah ditembakin?!

Jadi tiap kali beliau kelar mengerjakan proyek-proyek di pengungsian, macam proyek pembuatan taman bermain, proyek santunan janda dan yatim syuhada serta orang cacat, proyek pembuatan WC umum, proyek santunan bagi madrasah darurat, serta banyak lagi proyek lainnya, saya kasih hadiah beliau naik ke atas, demi memuaskan hasratnya yang ekstrim dan garis keras itu. Sekaligus memberi sedikit kebahagiaan di hati saya kala melihat tawa polosnya yang kegirangan dibom dan ditembaki!

Selama perang hebat mulai awal bulan ini beliau selalu bersama saya. Kamera kecil merk Lumix pegangan pak habib
Alhamdulillah sukses merekam belasan kali ledakan dari serangan roket jet Rusia. Beberapa aksi tempur mujahidin pun Alhamdulillah berhasil diabadikannya. Bahkan beberapa grup mujahidin akhirnya kepincut melihat kemahiran beliau yang alamiah di bidang rekam merekam, lalu berniat meminang pak habib jadi fotografer resmi mereka. Tapi sesuai amanat dan profesionalisme serta hal-hal teknis lainnya yang selalu saya wejangkan agar tak bergabung dengan manapun grup mujahidin, berat hati beliau menolak tawaran-tawaran menggoda itu.

Kelebihan habib Said Anshar lainnya adalah lembut dan perasa. Beliau memang garang di medan perang. Pemberani yang akan memandu orang lain agar sama beraninya. Tapi pada warga sipil terutama anak-anak dan orang tua, hatinya lemah serta penuh kasih sayang. Mungkin kalau bisa, semua anak se-Suriah sudah diangkutnya ke Indonesia!

Berkali-kali beliau menangis ketika bercerita penderitaan rakyat Suriah yang dilihatnya mata kepala. Berkali-kali pula proyek MMS di Suriah lahir dari ide serta kreatifitasnya. Termasuk foto HUT TNI ke-70 yang heboh itu. Semua riuh rendah MMS hari ini insyaAllah lahir dari hati habib Said Anshar yang tulus dan bersih

Kini di Suriah sedang dibangun sebuah pesantren Indonesia bernama ma'had Khaled ibn Waled. Diambil dari "Khaled Amru", Nama seorang syaikhul mujahid yang masyaAllah hebat dan junjungan masyarakat Suriah, serta nama kunyah habib Said Anshar yaitu "Abu Waled".

Dan lagi-lagi pesantren itupun masyaAllah ide beliau!

Yang lebih luar biasanya, beliau bukan cuma sekedar sumbang saran tapi juga sumbang uang! Jumlahnya ratusan juta rupiah! Ribuan meter tanah di perbatasan beliau beli tanpa banyak pikir!

Kemudian yang membuat saya makin kesulitan mendeskripsikan kemuliaan beliau adala : Setelah semua amal baiknya di Suriah, beliau rela memanggul sendiri karung gandum serta roti yang akan dibagikannya pada muslim Suriah. Ditinggalkannya semua kebesaran lahiriyah, dibasahinya pakaian beliau dengan keringat serta debu fisabiilIllah, hanya demi menyertai perjuangan saudara-saudara beliau di Suriah.

Saya malu menulis kisah ini. Karena tahu sampai kapanpun sulit bagi saya menyamai amalan beliau!

Semoga Allah memberi beliau surganya yang tertinggi, yang diperuntukkan bagi para Rasul, para syuhada, serta para hamba-hamba Allah yang paling mulia!

Saya thau beliau akan marah kisahnya ini saya tulis. Tapi ini harus saya tulis, untuk memacu semangat kita semua demi berlomba-lomba dalam kebaikan!

Satu lagi yang harus saya tulis adalah wejangannya yang indah dan nyata bagi kita semua. Semoga selalu kita ingat dan amalkan:

"Bismillah...
Semua yang terjadi hanya kehendak Allah. Dan semua yang di dunia hanya sesaat!
Yang kita keluarkan untuk akhirat lah yang abadi
Doakan kami agar bisa amanah dan istiqamah"

Demikian catatan singkat tentang seorang relawan Misi Medis Suriah, 'Habib garis tempur' yang membanggakan kita semua. Mudah-mudahan jadi penerang di tengah pekatnya kehidupan yang berat ini. Suri tauladan bagi kita semua dari seorang manusia yang masih hidup dan bisa kita jumpai nanti insyaAllah.

Mari berlomba-lomba dalam kebaikan. InsyaAllah yang kita keluarkan untuk akhirat lah yang abadi!


---------------------
Salurkan donasi terbaik anda melalui rekening berikut:

Suriah (Umum)
- MANDIRI 900 0019 330 720 (Kcp. Katamso, Yogyakarta)
- BCA 1691 967 749 (Kcu. Ahmad Dahlan, Yogyakarta)
- BRI 0029 0110 999 7500 (Kcu. Cik Ditiro,Yogyakarta)
- BNI 0317 563 523 (Kcp. Parang Tritis,Yogyakarta)
Semua atas nama IKRIMAH, Konfirmasi (opsional): Ikrimah 081809406405


Rohingya
BRI 0178 0100 6069 504 a.n Said Anshar