Friday, 13 November 2015

Catatan Fathi Attamimi: Gugurnya sang raksasa bagian 4 (selesai)

* Menjelang Isya
Sebuah mobil menderas kencang dari arah bukit. Lampunya yang kedap-kedip berkali-kali dinyalakan dimatikan, terlihat jelas dari markas kami. Belum sampai supirnya menginjak rem, seorang mujahidin di bak belakang sudah meloncat turun. Hampir saja ia jatuh terguling hilang keseimbangan ketika berteriak keras
"Ada yang syahid!!! Butuh evakuasi!"

Deg!
Jantung saya berdegup hebat. Evakuasi malam, dalam kegelapan, di tengah hujan peluru dan ledakan, seringkali memakan korban dari tim evakuasi! Tapi baiklah. Kalau mati, matilah saya dengan gagah berani. Bukan sebagai pengecut!

Segera saya minta pergantian supir. Mobil yang barusan datang tadi saya suruh putar balik. Tim evakuasi yang terdiri dari habib Said Anshar serta 5 mujahidin lainnya langsung saya pilih. Mereka mesti yang fresh. Minimal baru selesai beristirahat. Bukan apa-apa, mengevakuasi korban di tengah medan tempur jauh lebih berat dari bertempur itu sendiri!

Habib Said Anshar baru saya panggil. Belum sampai beliau mendekat, sebuah mobil lagi datang dari arah garis depan. Kali ini tanpa lampu, dan ugal-ugalan! Dari bak belakang samar-samar terlihat wajah Abdullah serta Abdussalam. Dan keduanya sedang menangis.

Diantara mereka terbaring sesosok tinggi besar ditutupi selimut hitam bantuan Saudi. Terpampang jelas pada logo kerajaan Saudi yang disablon besar-besar. Wajah beliau tak tertutup, hanya sepatu boot hitamnya yang sama persis dengan punya saya terlihat menjulur keluar mobil. Ada bercak darah di celana sang jenazah.

Begitu teringat sepatu milik siapa di gunung itu yang persis sama dengan punya saya, airmata saya tak terbendung lagi!
"SANG RAKSASA TELAH GUGUR!"

* Tiga jam sebelumnya
Begitu pedal gas mobil diinjak, sang raksasa menoleh cepat ke arah saya. Tatapannya lurus ke mata saya. Dalam diam mengajak saya bicara dengan bahasa yang tak saya pahami. Yang terbaca dari apa yang beliau sampaikan adalah kesenduan seperti akan pergi jauh, tapi sekaligus kegembiraan karena apa yang ia tuju adalah akhir yang bahagia.

Saat itu saya masih belum paham. 4 kali lambaian saya sejak 10 menit perjumpaan kami tak dibalasnya, padahal persahabatan kami terjalin sekira 2 tahun tanpa cela. 2 hari sebelum serangan, beliau masih mengundang saya sarapan pagi dengan bubur Ayam di rumah. Hadir pula habib Said Anshar yang kegirangan menemukan makanan khas Indonesia di negeri antah berantah. Kalau tak salah habib kita itu habis 2 mangkok besar! Katanya khilaf

Ketika sehari sesudahnya kami menggali lubang perlindungan di bawah markas sebagai tempat pelarian bila ada serangan udara, beliau memegang pundak saya erat. Kepala saya yang gede ini seolah tenggelam dalam kepalan tangannya yang jauh lebih gede. Waktu kembali ke markas beliau pun, saya diboncengnya naik motor sambil ngobrol ngalor-ngidul. Beliau bilang kalau belum nikah, mungkin saya mau dijodohin sama adiknya :-)

10 menit kemudian, double cabin yang ditumpangi 9 mujahidin pilihan itu tiba pada celah sempit diantara dua pos musuh. Di belakang mereka berdiri bukit Durin dengan ribuan Nushairiyah yang siap menghajar. Sedangkan di depannya berdiri puncak bukit Qal'ah yang sedang diperebutkan mati-matian oleh Nushairiyah dari bawah, dan dipertahankan matian-matian juga oleh mujahidin dari atas!

Misi ke 9 orang ini sederhana tapi mematikan:
Menghabisi Nushairiyah yang di bawah puncak bukit Qal'ah tanpa ketahuan oleh Nushairiyah di bukit Durin!

Kisah detailnya saya nukil dari kesaksian Abdussalam yang termasuk salah satu dari 9 mujahidin pilihan itu. Berikut narasi cerita beliau:

-------------------------------------
"Kami memarkir mobil pada cerukan lebar di bawah tebing. Seluruh senjata termasuk Doshka 12 mm dan ribuan pelurunya kami panggul menuruni lembahan sambil merayap. Jarak antara parkiran dengan target serangan sekira 1 km saja, tapi karena beban berat yang kami pikul serta gelap malam tanpa sinar sedikit pun, ditambah teknik berjalan mengendap-endap dan sesekali merayap, membuat perjalanan 1 km itu kami tempuh selama 1 jam!

Ziyad Doshka yang bertugas memberondong lawan berjalan paling depan. Lokasi penancapan tripod Doshka dia yang tentukan. Makanya ia hanya membawa sepucuk AK-47 dan 6 magazin saja supaya bisa bergerak lincah dan cepat sampai di tujuan untuk meninjau medan. Saya bersama sang raksasa kebagian tugas memanggul 2 BKC ditambah 1 Doshka 12 mm. Sumpah, waktu itu napas saya hampir putus!

Begitu tiba di lokasi, kami langsung bergerak membentuk perimeter mengelilingi Ziyad sang penembak utama. Apapun yang terjadi dia harus selamat insyaAllah! Kalau sampai target telah tahu sebelum kami sikat mereka, artinya kami akan terkepung dari 2 penjuru oleh ribuan Nushairiyah!

Selesai memasang tripod, kami mengukur jarak dengan lawan. Ternyata cuma 150-an meter saja! Alhamdulillah pergerakan senyap kami tidak tercium lawan di depan. Saya perintahkan 3 penembak menyebar ke 3 titik untuk menutup pintu serangan yang mungkin akan terjadi kalau kami ketahuan. 2 orang lagi saya suruh membantu penembakan ke arah target. Saya sendiri bersama sang raksasa bertugas menyuplai peluru bagi semua penembak!

Maka malam di bukit Qal'ah mendadak ramai oleh gempuran Doshka milik Ziyad. Puluhan Nushairiyah seketika tumbang dihajar pelor segede baterai ABC yang paling besar. Memanfaatkan sinar peluru flare yang ditembakkan musuh, Kami hantam mereka sepuas-puasnya!

Ya, bagaimana tidak puas?! Kapan lagi menembaki musuh yang kalang kabut menyangka tembakan datang dari kawan sendiri di belakang mereka! Radio-radio lawan menyalak memberi tahu ruang kontrol operasi supaya menghentikan tembakan dari bukit Durin karena yang kena malah kawan sendiri. Mereka belum tahu kalau diantara bukit Durin dan mereka, berdiri kami dan Allah!

Beratus-ratus peluru saya suplai pada Ziyad, sampai menjelang satu magazin Doshka lagi, saya hentikan operasi. Kiranya cukup sudah malam itu, sudah banyak lawan yang terbunuh, sudah banyak peluru yang ditembakkan, dan lawan pun sudah tahu lokasi kami. Satu kali sebuah peluru Doshka 23 mm menghantam tanah di kaki Ziyad, memercikkan rerumputan dan kerikil ke wajah dan matanya. Alhamdulillah tak satupun dari kami terluka!

Menutup operasi, kami beresi semua persenjataan dan kantong-kantong amunisi. Musuh sudah ngamuk! Segala mortir dan peluru kaliber besar mereka muntahkan ke lokasi kami! Berkali-kali kami tiarap nyaris kena gebuk mesiu lawan. Begitu selesai langsung saya perintahkan semua tim mundur kembali ke mobil.

Kami berjalan berbaris dengan jarak masing-masing 10-15 meter. Standar untuk menghindari jatuhnya korban ramai-ramai kalau jalan berkelompok. Tapi satu ketika sebuah tanjakan membuat kami terpaksa berkumpul karena kecepatan mendaki setiap personil tidak sama. Di situlah Allah menuliskan takdirnya bagi sang raksasa.

Saya melihat beliau dan 3 mujahid lainnya sedang saling bantu menaiki tanjakan ketika sebuah mortir 130 mm jatuh tepat ditengah-tengah mereka berempat! Yang tumbang pertama kali sang raksasa. Sebuah serpihan mortir menembus lehernya!

Beliau syahid (insyaAllah) seketika"
-------------------------------------

Saya dan habib Said Anshar langsung menaiki mobil dan mengevakuasi jenazah Abu Steve, sang raksasa, ke rumah ayahnya. Di sana telah menunggu seluruh keluarga jenazah yang sejak 1 jam lalu telah dikabari. Tak ada tangis yang pecah disana kecuali dari Yahya, adik kesayangan Abu Steve, yang juga mujahidin kesayangan kami, relawan Indonesia. Suaranya memilukan, lebih sebagai ratapan panjang yang lirih dan menarik siapapun pendengarnya pada kesedihan yang dalam. Saya belum menangis ketika itu meski airmata hampir tak mampu lagi ditahan. Saya salami satu-persatu seluruh hadirin, saya peluk Yahya dan kakak-adik Abu Steve lainnya, saya ucapkan kalimat penghibur, meski saya tahu itu hampa sebab saya sendiri pun sedang dalam kepedihan yang sangat.

Lalu ketika tiba pada Abu Ali, ayah dari Abu Steve, tangis saya meledak. Pada wajah Abu Ali tersungging senyuman manis yang berasal dari keimanan luar biasa hebat, ke-Tauhidan yang tinggi, kepasrahan yang dalam, serta ilmu yang meresap ke sanubari bahwa kematian anaknya adalah syafa'at bagi seluruh keluarga itu, insyaAllah!

Saya ditariknya ke pelukan. Ditepuk-tepuknya punggung saya dengan kebapakan. Diucapkannya kalimat yang saya ingat sampai hari ini:
"Jangan bersedih akhi Abu Quraisy, anak saya insyaAllah akan menjadi syafa'at juga bagimu di hari kiamat"

Tapi ketika saya lepaskan pelukannya dan tatapi wajah Abu Ali yang kedua kali, senyuman yang tadinya tegar itu hampir hancur. Ada getar kecil diantara bibir sang ayah. Pertanda kehilangan yang coba ditutupi sebisa-bisa. Saya semakin tersedu-sedu menyimak pemandangan yang hanya ada di medan jihad itu. Betapa seorang ayah yang mendorong 8 anak lelakinya maju ke medan perang kini kehilangan salah satu diantaranya, kebetulan yang paling dicintainya.

Saya tak mampu menulis panjang lebar lagi deskripsi ini. Airmata saya sudah banjir mengenangnya, antum teruskan sendiri kisah ini dengan imajinasi yang paling hebat sekalipun...
Meski percayalah, sekuat apapun antum berimajinasi, dunia lain yang bernama medan jihad itu tak akan pernah terbayangkan!

Sekian serial GUGURNYA SANG RAKSASA

Abu Steve rahimahullah

Steve

Saya titip rekening dibawah ini, barangkali setelah membaca kisah-kisah ini antum tergerak untuk membantu muslim Suriah. Silakan membantu semampunya. Semoga dengan begitu Allah jadikan kita semua sebagai bagian dari perjuangan hamba-hamba Allah di bumi Suriah, sehingga bila nanti di akhirat barangkali ada pertanyaan "Apa yang sudah engkau lakukan untuk saudara-saudaramu yang sedang ditimpa kedzaliman?", kita bisa menjawabnya dengan mudah dan lancar!

Jangan khawatir, donasi antum bukan untuk bantuan militer dan semacamnya. Foto-foto kegiatan kemanusiaan kami di Suriah banyak terpampang pada FP Misi Medis Suriah. Mulai dari rumah sakit, klinik, pabrik roti, fasilitas umum, jilbabisasi, dan masih banyak lagi...

Suriah (Umum)
- MANDIRI 900 0019 330 720 (Kcp. Katamso, Yogyakarta)
- BCA 1691 967 749 (Kcu. Ahmad Dahlan, Yogyakarta)
- BRI 0029 0110 999 7500 (Kcu. Cik Ditiro,Yogyakarta)
- BNI 0317 563 523 (Kcp. Parang Tritis,Yogyakarta)
Semua atas nama IKRIMAH, Konfirmasi (opsional): Ikrimah 081809406405


Jazakumullah khairal jaza
Allah Yubaarik fiikum wa fii maalikum