Friday, 13 November 2015

Sahabat Kami



Bayang-bayang wajah para sahabat yang gugur mendahului berkelebatan dalam sanubari. Sekiranya bisa ditebus, biarlah yang aku yang menjadi ganti mereka. Tak mengapa, karena hilangnya seorang pecundang jauh lebih ringan daripada kehilangan para ksatria. Terus menerus menjalani hidup laksana sampah-sampah tak berguna.

Tiada yang difikir kecuali 'aku dan kesenanganku'-dunia, dan dunia. Rasa-rasanya akhirat hanyalah sisipan cerita pelengkap yang tak dianggap. Mataku sembab menangisi mereka. Mungkin tidak lebih dari luh buaya. Harusnya aku sadar diriku lebih berhak untuk air mataku daripada mereka yang menjadi syuhada.

Ustadz Ihsanul Faruqi