Wednesday, 9 March 2016

Kecantikan para wanita Suriah dan tingginya marwah mereka

Bunga Suriah
Negeri Suriah merupakan bagian dari bumi Syam, beserta negeri-negeri lain yang ada di sekitarnya.

Meskipun di masa kini mayoritas penduduknya merupakan penutur bahasa Arab (dialek Suriah), namun ke-Araban orang Suriah memiliki ciri fisik yang tidak sepenuhnya sama dengan orang-orang asli dari Jazirah Arab.

Di Syam kita mudah menemukan anak-anak berambut "Jagung" (pirang) dengan mata berwarna.

Mereka bukanlah Albino yang memiliki masalah pigmen tubuh. Meski sekilas mirip seperti orang-orang Eropa barat, namun kulit mereka bersih tanpa tanda bintik sedikitpun.

Pada zaman dahulu sebelum kedatangan Islam, bumi Syam cukup lama berada di bawah kekuasaan Romawi. Hal tersebut menyebabkan terjadi asimilasi antara orang Eropa dengan penduduk lokal. Baru kemudian setelah Syam jatuh ke tangan Islam, terjadi lagi percampuran besar-besaran dengan masyarakat Jazirah Arab.

Percampuran atau asimilasi ini bukan hanya soal budaya, bahasa dan agama, namun juga genetik melalui perkawinan. Sehingga jadilah rata-rata orang Suriah yang sekarang kita kenal ini.

Penduduk asli Suriah termasuk rumpun semitik, kerabat terdekatnya adalah orang-orang Yahudi asli, Palestina, Yordania dan Lebanon. Di sana juga terdapat etnis-etnis kecil yang menambah keberagaman negeri itu, yaitu Armenia, Asyiria, orang Kaukasus, Yunani, Kurdi, dan Turkmen/Turkik.

Soal wanita Syam, ada semacam pemeo yang menggambarkan tentang mereka, bahwa:

"Barangsiapa lelaki yang telah menikah kemudian meninggal dan ternyata ia belum pernah menikahi wanita Syam, maka ia mati dalam keadaan seakan-akan masih bujang."

Syaikh Khalid Amru hafidzahullah (mitra Misi Medis Suriah) pernah bercerita tentang wanita Suriah dengan segala keunggulannya menurut pandangan umum di sana.

Pengelompokan yang beliau berikan mengenai karakter-karakter wanita Suriah berdasarkan asal daerah, meski pastinya sangat kental dengan subjektivitas beliau. Menurut Syaikh Khalid:

1). Wanita Dimasyq/Damaskus, masyhur dengan kedalaman rasa cinta kasihnya terhadap sang suami. Selain itu mereka dikenal multazimah atau berkomitmen terhadap ajaran agama Islam.

2). Wanita Homs/Himsh terkenal dengan kejelitaan wajahnya. Perempun Suriah secara umum memang cantik jelita. Namun wanita Homs mempunyai kecantikan di atas rata-rata perempuan Suriah lainnya.

3). Wanita Halab/Aleppo, jika anda penikmat kuliner Suriah maka wanita Halab sangat direkomendasikan untuk dijadikan istri. Selain piawai membuat masakan yang mak-nyuss, memasak memang merupakan kegemaran mereka. Sangat cocok juga bagi anda yang ingin mengembangkan usaha rumah makan.

4).Wanita Idlib adalah tipe pekerja keras, bahkan untuk melakukan beberapa pekerjaan yang biasa dilakukan oleh laki-laki. Tidak seperti kebanyakan wanita Suriah yang meghabiskan waktu di rumah. Wanita Idlib banyak bekerja di luar bahkan sampai keluar daerah lain.

5).Wanita Lattakia adalah wanita yang sangat peduli dengan kerapian dan kebersihan rumah. Susah mereka untuk melihat onggokan sampah ataupun barang perabot rumah berserak berantakan. Selain itu mereka juga dikenal sangat sayang dan perhatian dengan anak-anak.

Masih menurut Syaikh Kholid, wanita Suriah yang paling mantab untuk dijadikan istri adalah wanita Dimasyq/Damaskus baru kemudian wanita Lattakia.

Sangat kuat dalam menjaga Marwah dan kehormatan
Sejak berkuasanya rezim diktator Hafidz al-Assad laknatullah (bapak Basyar), kehidupan kaum muslimin Suriah dikekang dengan hukum darurat dan cara represif. Sedikit demi sedikit mulai dilemahkan, bahkan dijauhkan dari agamanya.

Tidak tanggung-tanggung, hal tersebut terjadi selama 40 tahun. Di bawah injakan pemerintah Syi'ah Nushairiyah, Ahlusunnah terpaksa tunduk dan ikut "bersorak-sorai" untuk pemerintah thoghut Alawite.

Namun ada fakta menarik dalam perbincangan kami dengan salah seorang ikhwan asli Suriah, Abu Ali, perihal kehidupan mereka sebelum revolusi pecah. Abu Ali menjelaskan bahwa meskipun selama berpuluh-puluh tahun coba dijauhkan dari Islam oleh rezim, namun fitrah sebagai seorang muslim (Ahlusunnah) masih kuat melekat dalam diri mereka.

Menurut Abu Ali, banyak faktor yang menyebabkannya, salah satu diantara yang paling penting adalah mereka mengerti bahasa Arab. Yaitu bahasa yang dipakai oleh Al-Qur'an, bahasa tempat agama Islam diturunkan.

Sebab lainnya adalah banyak wilayah-wilayah muslim (Ahlusunnah) terpisah dari tempat orang-orang Nasrani maupun Nushairy, sehingga fitrah mereka sebagai muslim tetap terjaga.

Misalnya wanita-wanita muslim Suriah sejak dulu sudah menggunakan jilbab (meski belum Syari') dan betul-betul menjaga diri dari pergaulan dengan laki-laki. Minum-minuman beralkohol atau khamr dianggap sebagai barang tabu di tempat umum (malu untuk maksiat).

Para lelaki sangat melindungi kaum wanitanya, dan para wanita sungguh menjaga kehormatannya, dengan rasa malu luar biasa.

Jangan kira mudah bertemu perempuan Suriah di jalan, kalaupun ada maka mereka akan menjaga hijabnya dan memilih menghindar. Yang iseng lirak-lirik, pasti langsung dicurigai dan ditegur oleh para prianya, walau sama-sama asing alias tak kenal. Mereka siap pasang badan untuk "menggeplak" mata keranjang.

salah satu janda tua penerima santunan MMS
Ada satu lagi fakta menarik tentang bantuan santunan kepada para janda Suriah di kamp pengungsian, bahwa MMS hanya bisa mengambil foto nenek-nenek dan anak gadis yang belum baligh saja.

Para wanita berusia relatif muda yang dengan takdir Allah telah menjanda karena ditinggal Syahid suaminya tidak ada yang mau diambil foto. Kata mereka: "Lebih baik tidak menerima santunan, daripada harus diambil foto!"

Jadilah kami hanya diperkenankan ambil foto sang anak sebagai bukti santunan dari donatur Indonesia telah diserahkan pada yang berhak.

Tetapi sifat perempuan Muslimah seperti ini ada dimana-mana, termasuk Muslimah di Indonesia.

Uniknya, sifat-sifat atau kebiasaan orang Suriah menjaga kaum wanitanya, selain di kalangan Muslim Ahlusunnah, juga ada di sebagian kalangan penganut agama Nushairiyah. Mungkin karena sedikit tertular interaksi budaya atau lainnya.

Berbeda dengan perempuan Syi'ah Rafidhah yang biasanya hobi kawin mut'ah bergiliran.

Ketika para milisi Syi'ah Imamiyah dari Iran berhasil menembus kota Syi'ah Nubul-Zahra di Aleppo utara, mereka meminta para perempuan setempat disediakan untuk "dipakai" kawin mut'ah.

Tentu saja ditolak. Bahkan mereka marah karena para perempuannya telah dilecehkan oleh milisi Syi'ah Rafidhah.

Milisi Rafidhah asing khususnya dari Iran dianggap telah melakukan pemerkosaan besar-besaran hingga mencapai lebih dari 1000 kasus. Sebagian dilakukan dengan kedok nikah mut'ah/kawin kontrak.

Mereka juga mengatakan jika pemerintah dan militer rezim tidak segera turun tangan, maka di Nubul dan Zahra tidak akan lagi perawan. Yang tinggal hanyalah korban perkosaan para Rafidhah Iran.